Islam merupakan agama yang sangat memerhatikan kedamaian antar umatnya. Rasulullah SAW mengajarkan tiga macam persaudaraan dalam islam, yaitu Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama umat islam), Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan sesama kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (Persaudaraan sesama manusia). Konsep persaudaraan dalam konteks Ukhuwah Islamiyah mengajarkan bahwa seluruh umat Islam adalah saudara, tanpa memandang ras, suku, kebangsaan, ataupun status sosial. Perempuan memiliki peranan penting dalam menjaga dan memperkuat ukhuwah Islamiyah, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dalam komunitas yang lebih luas. Peran muslimah ini bersumber dari ajaran Islam baik Al-Qur'an dan Hadis maupun pendapat para ulama’ yang menempatkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam kebaikan dan ketakwaan
Perempuan
Sebagai Pilar Pendidikan Keluarga
Perempuan, khususnya seorang ibu, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di dalam keluarga, ibu berperan menanamkan nilai-nilai ukhuwah seperti cinta kasih, toleransi, saling membantu, dan saling menghargai. Melalui pendidikan di rumah, ibu membentuk karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang cinta damai dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim. Peran penting ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”
Perempuan
Sebagai Pilar Pendidikan Keluarga
Perempuan, khususnya seorang ibu, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di dalam keluarga, ibu berperan menanamkan nilai-nilai ukhuwah seperti cinta kasih, toleransi, saling membantu, dan saling menghargai. Melalui pendidikan di rumah, ibu membentuk karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang cinta damai dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim. Peran penting ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Setiap
kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban
atas yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan
dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”
Perempuan sebagai Agen Perdamaian Sosial
Perempuan
memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial. Dengan sifat lembut
dan penuh perhatian, mereka seringkali menjadi jembatan yang menghubungkan
individu dan keluarga. Mereka mampu menyelesaikan konflik dengan bijaksana,
menumbuhkan rasa empati, dan memfasilitasi komunikasi yang efektif di
masyarakat. Keterlibatan perempuan dalam berbagai kegiatan seperti majelis
taklim, pertemuan rutin, atau aksi sosial sangat berperan dalam memperkuat tali
persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Hal ini selaras dengan ajaran Al-Qur'an
dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, yang berbunyi:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟
بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١٠
"Sesungguhnya
orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat
rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini menegaskan pentingnya persaudaraan dan perdamaian di antara sesama Muslim, sebuah nilai yang secara nyata diwujudkan melalui kontribusi perempuan dalam masyarakat.
Peran dalam Dakwah dan Pendidikan Islam
Perempuan
muslimah memiliki peran yang sangat krusial dalam dakwah dan pendidikan islam.
Perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya tentunya sangat penting
untuk mengetahui, memahami dan mengajarkan nilai-nilai islam sejak dini
terhadap anak-anaknya. Perempuan juga bisa menjadi ustadzah maupun aktivis
dakwah yang dapat berupaya untuk menanamkan nilai-nilai islam khususnya nilai
persaudaraan (ukhuwah) kepada generasi penerus. Jejak perjuangan tokoh muslimah
terdahulu, seperti Khadijah RA, Aisyah RA, dan para Sahabiyah lainnya, menjadi
bukti nyata betapa besar kontribusi seorang muslimah dalam memperkuat komunitas
Muslim. Peran aktif perempuan muslimah ini sesuai dengan seruan Allah SWT dalam
Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 104 yang menegaskan pentingnya berdakwah dan
mengajak terhadap kebaikan sebagai tugas mulia bagi seorang muslim.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ١٠٤
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).
Menangkal
Perpecahan dan Fitnah
Di tengah
perkembangan pesat era digital, khususnya media sosial, kita sering dihadapkan
pada ancaman fitnah, ujaran kebencian, dan potensi perpecahan di kalangan umat.
Sebagai Muslimah, kita memiliki tanggung jawab utama untuk mencegah hal
tersebut. Caranya antara lain dengan aktif menyebarkan konten positif yang
menenangkan, memupuk semangat persaudaraan (ukhuwah), serta membiasakan diri
untuk melakukan klarifikasi (tabayyun) terhadap setiap informasi yang diterima.
Berperilaku kritis dan cerdas di media sosial adalah bagian integral dari
tanggung jawab moral Muslimah di era modern ini. Banyak Muslimah yang telah
menunjukkan peran ini dengan membagikan konten-konten inspiratif, salah satunya
adalah Naisa Alifia Yurisia, atau yang akrab disapa Nay. Sebagai seorang content
creator, Nay dikenal sering membagikan pembahasan yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan kebaikan.
Menghidupkan Semangat Solidaritas
Muslimah memiliki kekuatan untuk menghidupkan semangat solidaritas di
tengah umat, terutama dalam masa-masa krisis. Ketika terjadi bencana alam, konflik
sosial, atau krisis kemanusiaan, perempuan sering kali tampil sebagai penggerak
utama dalam berbagai aksi kemanusiaan. Mereka terlibat dalam penggalangan dana,
pemberian bantuan sandang dan pangan, hingga pendampingan bagi para korban.
Bentuk-bentuk konkret ukhuwah ini menjadi bukti nyata bahwa muslimah berperan
penting dalam menyalakan kembali nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian dalam
masyarakat. Contohnya dalam kasus kemanusiaan di Palestina, banyak muslimah
yang turut menyuarakan kepedulian melalui penyebaran informasi serta membuka
penggalangan dana untuk membantu korban genosida yang terjadi di sana.
Penutup
Seorang
Muslimah memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam menjaga dan memperkuat
ukhuwah Islamiyah. Perannya sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga,
agen perdamaian sosial, pelaku dakwah, serta penjaga etika bermedia di era
digital menjadikannya pilar penting dalam membangun masyarakat yang harmonis,
solid, dan penuh kasih sayang. Kontribusinya tidak hanya terbatas di lingkup
domestik, tetapi juga mencakup bidang sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.
Perlu adanya dorongan terus-menerus untuk memberdayakan perempuan Muslim agar
mampu menjalankan peran tersebut secara optimal demi terwujudnya ukhuwah
Islamiyah yang kuat, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman yang
luhur. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut keterlibatan aktif
seluruh elemen umat, termasuk perempuan, sebagai penjaga persatuan dan perekat
kehidupan beragama yang damai serta penuh keberkahan.
Daftar Referensi:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 10:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..."
2. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang
kepemimpinan perempuan di rumah.pp
3. Quraish Shihab. (2002). Wawasan Al-Qur’an:
Tafsir Maudhu’i atas berbagai Persoalan

Komentar
Posting Komentar